Saturday, 13 July 2013

Cara Gue move ON

Setiap orang punya cara sendiri untuk mengobati luka hatinya. Menyalahkan oranglain, pura-pura tak peduli dengan masalah yang terjadi, atau bahkan menempatkan diri menjadi pihak yang bersalah (yang ini gue banget). Aku sendiri menikmati setiap gejolak perasaan yang kualami. Hanya saja beberapa waktu yang lalu aku sempat ngerasa jenuh dengan keadaan yang serba monoton (boring). Semuanya selalu berjalan pada jalurnya, terasa mudah dan terarah. Aku emang kurang bersyukur padahal banyak orang yang ingin jalan hidupnya seperti itu. Muluuusss............ Akhirnya aku pun mulai terbuai dengan kenyamanan dan posisi aman. Hingga masalah datang bertubi, beberapa bulan dan sempat mengganggu skripsi yang sedang ku kerjakan.

Awal ramadhan, ku kira semuanya selesai. Ternyata inilah masalah terberatku. Walaupun seluruh dunia mengejek dan memperlakukanku dengan buruk itu takkan menyakitiku begitu dalam bila ada satu orang saja yang percaya padaku dan menemaniku dalam perjuangan mempertahankan prinsip. Tapi disaat dunia kini benar-benar ingin menenggelamkan menara prinsipku dalam perut bumi dan meremukkan setiap pondasi di dalamnya kau malah berhenti seolah ingin menyerah pada TuanMu. Aku sangat kecewa karena aku salah menaruh kepercayaan. Kupertaruhkan segalanya bahkan sampai ku jilat ludahku sendiri. Tapi semua tak cukup untuk membuatmu tetap tinggal. Berada disampingku itu harus ku tebus dengan mahal, atau bahkan mungkin hanya nyawaku yang pantas untuk membayar.

Perasaan ini kunikmati saja sewajarnya. Sakit hati biasanya nangis, nulis di buku harian, bikin surat yang entah kapan mau dikirim ke tujuan, bikin puisi, nyanyi-nyanyi sampe tetangga banting panci, ketawa ngakak padahal kejadiannya gak lucu-lucu amat, terus jadi tobat deh padahal tadinya ahli maksiat. Wajar kan? Akhirnya setelah ku habiskan berhari-hari dengan melakukan sesuatu yang wajar sesuai prosedur orang yang sakit hati aku kembali move on. Ku ingat kembali kejadian dua tahun yang lalu. Saat dia yang kupercaya ternyata pergi meninggalkan semua janji, seorang penulis menyadarkanku lewat bukunya. "bahwa sesungguhnya manusia tidak mempunyai apa-apa, bahkan raga yang ia tempati pun bukan miliknya."

Keluarga yang ia cintai, harta benda, jabatan, perasaan, kemampuan, kecantikan/ketampanan, bahkan pasangan yang ia cintai semuanya hanya titipan. Yang namanya titipan pasti suatu saat akan diambil oleh pemiliknya. Kemudian kita sebagai manusia yang dititipi oleh Alloh Subhanahuwata'ala berkewajiban untuk menjaga dengan sebaik-baiknya,jangan sampai lecet apalagi hilang. Sang penitip bisa mengambilnya kapan saja, kapanpun Dia mau meski kita telah menyayangi seperti milik kita sendiri dan berat hati untuk memberikannya. Kita tak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu, cintailah sewajarnya, jangan sampai cinta yang berlebihan membuat Alloh SWT. cemburu karena merasa dikhianati hingga Alloh SWT. mengambil apa yang kita cintai secara berlebihan itu dengan paksa. Pada saat hal itu terjadi, kita tidak boleh berburuk sangka, seharusnya kita malah berbahagia. Karena sesungguhnya Alloh SWT. begitu mencintai kita, merindukan kita, dan cemburu dengan cinta kita kepada selain Dia.

Maka tersenyumlah dan berbahagialah ketika Alloh menunjukkan rasa cemburunya.... :)

No comments:

Post a Comment