Wednesday, 14 January 2015

Puisi karya teman : PELANGI TIGA WARNA




Haiiii ^^ kali ini aku mau posting tulisan temenku. Tulisannya bagus, dan jarang sekali aku nemuin dia dalam keadaan sadar seperti itu. Haaahaa *sorry beib. Dan sayang kalo musti dibiarkan saja, terlipat diantara kertas tagihan dan bon belanja, lalu berbalut debu dan termakan waktu. Tanpa ada penghargaan atas buah pemikiran yang …. gue rasa punya taste sendiri.

Disini menceritakan tiga orang yang berbeda. Sebuah hubungan yang penuh warna, dikemas dalam bahasa yang ringan tapi punya rasa yang berat. Kamu pasti bisa rasain deh, sensasi yang menggantung dan tak ingin berakhir. Apalagi kalo kamu juga tau siapa aja tokoh yang ada dalam tulisan ini pasti lebih ngena. Well, let’s read this….



Aku …. Ia kamu!!!


Lelah yang aku rasa berkeliling di fatmorgana dunia ku sendiri sampai engkau datang menghampiri dan menjemputku, membawaku ke jalan yang tak pernah kulewati…


Semakin lelah tak tertahan hingga singgah di sebuah ruang kotak berhembus angin (kipas angin) tanpa sadar aku terlelap….


Dan tersadar kamu mengecup dengan lembut tanpa dosa


Bodohnya aku terdiam dan terpaku


Tanpa kusadari semakin lembut kamu mengecup semakin hanyut dalam ruang kotak…


Dan aku sadar apa yang aku lakukan…


Kamu yang paling lembut diantara angin yang berhembus 5cm



Bee … and mee!!!

Waktu …

Waktu …

Dan waktu …

Bee adalah bee

Kicauan yang bee keluarkan dari setiap kata …

Sangat sederhana dan terkadang brutal tak terduga … mee adalah mee tak mungkin bersatu bee dan mee

Semua hanyalah kicauan yang datang tak terduga … tak seperti burung yang selalu berkiau di pagi hari

Dan tak seperti merpati pengantar pesan …

Hmmm bee … ???

Tanpa alasan yang jelas mee … miss u



Ay ay yank???


Seperti pagar yang selalu berdiri tegak di sisi-sisi rumah tanpa ay sadari semuanya hanyalah pagar …


Hmmm yank???


Seperti jalan tol tak pernah terhambat kemacetan namun akhirnya pergi dan memilih jalan lain …


Maaf … & terimakasih …

Tuesday, 13 January 2015

Penasaran pada seseorang yang baru dikenal



Aku mencoba tak acuh pada ke-aku-an-mu. Pesona kepribadianmu, sikapmu, seleramu, dan kehidupanmu. Semuanya sungguh menarik dan mampu membuat limbik-ku segera menguasai segala yang kusebut dengan sistem organ. Kau adalah rimba yang menyimpan keliaran berbalut tantangan. Rimba yang ku impikan. Lolongan serigala saat malam purnama sebagai tembang nestapa yang menggita dari lubuk hati sang perindu, ancaman mereka yang siap menerjang, intaian dari yang melata, juga balutan kabut penuh aroma mistik. Aku melihat keluguan setangkai putri malu tak terjamah, anggrek liar yang kian bersemi, dan serumpun  bunga Lily di tepi jurang. Aku mendengar bisikan angin yang sampaikan kerinduan alam pada pengelana. Kesejukkan yang hilangkan segala dahaga akan petualangan. Bisa kau bayangkan apa yang kulihat saat ini? Kegilaan yang terkungkung nilai sosial seorang wanita. Ketakutan. Keliaran. Keluguan. Gairah yang menyala. Petualangan dan cinta yang penuh kejutan. Semua menjelma dalam batas ke-aku-an-ku, menggila di dalamnya namun redam dalam sikap. Kau adalah rimba tropis berbalut kabut yang biaskan pandangan setiap petualang. Kau adalah kicau burung hantu saat yang melata memadu kasih. Kau adalah anggrek liar yang tumbuh berdampingan dengan sangkar elang. Bisa kau bayangkan betapa gilanya aku saat ini?