Rasa sayang tak terasa kembali tumbuh. Entah dari mana mulanya. Padahal aku sungguh pernah merasa kekecewaan yang dalam pada Dia....memendam benci yang tak tahu pangkal dan ujungnya
Beberapa bulan ini, ya...tepatnya 1 tahun ini aku tinggal bersamanya. Dengan kaku dan bingung...aku mencoba berinteraksi layaknya anak kepada orang tua.
1 hal membuatku bertahan. Adikkku. Apapun keadaannya aku tak akan pernah meninggalkan adikku. Aku telah berjanji untuk selalu bersamanya. Dia adalah satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai sekarang. Dia adalah orang yang aku nantikan jauh sebelum dia ada. Dia adik yang melihatku saat ku menangis, marah, senang, dan segala gejolak jiwa yang nampak di wajahku.
Aku terus berpikir tentang masa....masa dimana aku kan bahagia bila tak bersamanya lagi. Masa ketika aku bisa hidup di jalanku. Masa ketika aku bisa bernafas bebas dan melepas, menitipkan adikku dengan tenang
Dan pada akhirnya masa mulai mendekat...
Tuhan mengabulkan permohonanku. Aku mulai menyapa masa itu, Ia tersenyum dan mengajakku untuk segera bersamanya. Ia juga tak sabar untuk berjalan bersamaku. Ia bercerita tentang kebebasan, keceriaan, masa depan, dan berbagai gambaran kehidupan yang pernah ku angankan. Aku bahagia karena akhirnya aku bisa meninggalkan semua yang kupikir memuakkan dan membuatku merasa tertekan.
Tetapi hari ini, aku merasakan hal yang lain. Siang tadi adikku mendengar bahwa esok aku tak tinggal bersamanya lagi. Padahal aku hanya akan kost sementara waktu, dan pastinya aku juga akan pulang sesekali. Jauh dariku harusnya bukan hal yang asing lagi baginya. Karena sejak aku SMA juga aku kost, bahkan aku jarang sekali pulang. Tapi tatapan matanya kali ini sungguh mangiris hatiku. Saat dia bertanya padaku "mbak beneran besok mau kost lagi?". Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seolah akan berpisah sekian lamanya denganku. Aku tak tahan dengan perasaan ini. Lalu untuk mencairkan suasana yang sedikit kelabu, aku menjawabnya dengan lelucon "He eh kenapa, pengen nangis ya?". Ah seperti biasa, dia hanya tersenyum menjerit untuk menyembunyikan perasaannya. Tapi aku bukan kakak yang tak mengenal adiknya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Aku merasa sangat sedih meninggalkan rumah. Bukan. Bukan hanya karena adikku. Ternyata Ayah dan Ibu baruku kini telah menempati sebagian ruang kosong dalam hatiku.
Selama ini aku selalu menghindar untuk bertatapan dengan ayahku sendiri. Bukan karena aku benci tetapi karena aku kecewa. Hanya saja, hari ini aku sengaja ingin menatapnya saat Ia tak tahu. Aku mengamati wajah ayahku. Tua. Ayahku sudah sangat tua. Begitu terlihat lebih tua dari terakhir kali aku mengamati guratan-guratan di wajahnya. Keriput tulang pipi yang makin jelas. Tak berhenti sampai di situ. Ketika kau berjalan, tak segagah dulu terakhir kali aku mengikuti langkahmu. Kau tak lagi kekar, langkahmu mulai gontai, rambutmu kini hampir seluruhnya beruban, dan gigimu kini palsu. Aku tak kuasa untuk terus menatapmu.
Ibu baruku tak jauh beda, meski baru 13 bulan Ia menjadi ibuku. Tetapi Ia telah berusaha yang terbaik. Tanpanya aku takkan setenang sekarang. Aku takkan terlalau khawatir bila meninggalkan adikku suatu saat nanti.
Maafkan aku ayah....Ibu
Lebih dari setahun ini aku meragukan cinta kasihmu. Aku termakan oleh prasangka buruk yang mereka katakan. Tanpa ku mau bertanya apa dan mengapa. Tanpa ku menyadari bahwa sebagian besar dari hidupmu adalah untuk membesarkanku. Akulah manusia yang telah memakan masa mudamu, membakar dagingmu, dan melahap kehidupanmu. Hanya karena isu yang tak jelas, praduga yang menghakimi tanpa asas. Aku. Aku yang hina ini meragukan hubungan darah kita.
Maafkan aku
Maafkan anakmu ini yang pantas tak mendapat Ridho_Mu
Tuhan.....sampaikan perasaanku ini padanya
Aku akan mempertanggungjawabkan semua yang telah Ayah berikan
Aku ingin membuat Ayah percaya, bahwa
Aku bukan anak yang tak tahu etika
Beberapa bulan ini, ya...tepatnya 1 tahun ini aku tinggal bersamanya. Dengan kaku dan bingung...aku mencoba berinteraksi layaknya anak kepada orang tua.
1 hal membuatku bertahan. Adikkku. Apapun keadaannya aku tak akan pernah meninggalkan adikku. Aku telah berjanji untuk selalu bersamanya. Dia adalah satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai sekarang. Dia adalah orang yang aku nantikan jauh sebelum dia ada. Dia adik yang melihatku saat ku menangis, marah, senang, dan segala gejolak jiwa yang nampak di wajahku.
Aku terus berpikir tentang masa....masa dimana aku kan bahagia bila tak bersamanya lagi. Masa ketika aku bisa hidup di jalanku. Masa ketika aku bisa bernafas bebas dan melepas, menitipkan adikku dengan tenang
Dan pada akhirnya masa mulai mendekat...
Tuhan mengabulkan permohonanku. Aku mulai menyapa masa itu, Ia tersenyum dan mengajakku untuk segera bersamanya. Ia juga tak sabar untuk berjalan bersamaku. Ia bercerita tentang kebebasan, keceriaan, masa depan, dan berbagai gambaran kehidupan yang pernah ku angankan. Aku bahagia karena akhirnya aku bisa meninggalkan semua yang kupikir memuakkan dan membuatku merasa tertekan.
Tetapi hari ini, aku merasakan hal yang lain. Siang tadi adikku mendengar bahwa esok aku tak tinggal bersamanya lagi. Padahal aku hanya akan kost sementara waktu, dan pastinya aku juga akan pulang sesekali. Jauh dariku harusnya bukan hal yang asing lagi baginya. Karena sejak aku SMA juga aku kost, bahkan aku jarang sekali pulang. Tapi tatapan matanya kali ini sungguh mangiris hatiku. Saat dia bertanya padaku "mbak beneran besok mau kost lagi?". Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seolah akan berpisah sekian lamanya denganku. Aku tak tahan dengan perasaan ini. Lalu untuk mencairkan suasana yang sedikit kelabu, aku menjawabnya dengan lelucon "He eh kenapa, pengen nangis ya?". Ah seperti biasa, dia hanya tersenyum menjerit untuk menyembunyikan perasaannya. Tapi aku bukan kakak yang tak mengenal adiknya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Aku merasa sangat sedih meninggalkan rumah. Bukan. Bukan hanya karena adikku. Ternyata Ayah dan Ibu baruku kini telah menempati sebagian ruang kosong dalam hatiku.
Selama ini aku selalu menghindar untuk bertatapan dengan ayahku sendiri. Bukan karena aku benci tetapi karena aku kecewa. Hanya saja, hari ini aku sengaja ingin menatapnya saat Ia tak tahu. Aku mengamati wajah ayahku. Tua. Ayahku sudah sangat tua. Begitu terlihat lebih tua dari terakhir kali aku mengamati guratan-guratan di wajahnya. Keriput tulang pipi yang makin jelas. Tak berhenti sampai di situ. Ketika kau berjalan, tak segagah dulu terakhir kali aku mengikuti langkahmu. Kau tak lagi kekar, langkahmu mulai gontai, rambutmu kini hampir seluruhnya beruban, dan gigimu kini palsu. Aku tak kuasa untuk terus menatapmu.
Ibu baruku tak jauh beda, meski baru 13 bulan Ia menjadi ibuku. Tetapi Ia telah berusaha yang terbaik. Tanpanya aku takkan setenang sekarang. Aku takkan terlalau khawatir bila meninggalkan adikku suatu saat nanti.
Maafkan aku ayah....Ibu
Lebih dari setahun ini aku meragukan cinta kasihmu. Aku termakan oleh prasangka buruk yang mereka katakan. Tanpa ku mau bertanya apa dan mengapa. Tanpa ku menyadari bahwa sebagian besar dari hidupmu adalah untuk membesarkanku. Akulah manusia yang telah memakan masa mudamu, membakar dagingmu, dan melahap kehidupanmu. Hanya karena isu yang tak jelas, praduga yang menghakimi tanpa asas. Aku. Aku yang hina ini meragukan hubungan darah kita.
Maafkan aku
Maafkan anakmu ini yang pantas tak mendapat Ridho_Mu
Tuhan.....sampaikan perasaanku ini padanya
Aku akan mempertanggungjawabkan semua yang telah Ayah berikan
Aku ingin membuat Ayah percaya, bahwa
Aku bukan anak yang tak tahu etika
No comments:
Post a Comment