Aku memulainya dengan "Basmallah". Mengumpulkan kesadaran diri dan membentuknya menjadi kekuatan untuk mempertahankan komitmen yang mengawiniku sejak juli 2012. Ku tatap mentari pagi ini. Hangat. Kupikir sebentar lagi akan menjadi panas. Akibat stelan warna gelap yg kupakai, jaket parasut dan reaksi kimia yg terjadi karena aktifitas yang segera akan ku kerjakan. Aku tersenyum kepada mereka yang kutemui di jalan. Aku bersenandung ria bersama peri cantik dan melirik genit kepada langit, kepada mentari, kepada awan, kepada burung-burung, dan kepada DIA yang ku rindukan. Terkadang aku pun harus bersikap masam kepada mereka yang memandangku dengan tidak hormat, dan mereka yang memanggilku dengan tidan santun. Sedari itu, aku terus mengayuh. Berpikir hal-hal yang membuatku setia pada komitmenku.
Di setiap perjalanan, akan selalu ada rintangan. Seperti yang ku temui. Jalanan becek, lubang-lubang tak beraturan, kerikil tajam, tanjakan terjal, turunan curam ...belum lagi udara yg tak bersahabat entah itu karena polusi atau cuaca yg tak mendukung. Kemungkinan ban bocor, dan badan kurang fit. :( Semua harus kulewati agar aku sampai ke tempat kerja.
Maju teruss !! (kataku) Meski harus menurunkan kecepatan dan sepeda harus ku tatih. Tertinggal sedikit dari yg lain lebih baik daripada harus berhenti di tengah jalan lalu terlindas oleh mereka yg ganas. Tetaplah mengayuh lakukan yang terbaik yang aku bisa !! Ini hanya awal dari perjalananku, jangan hiraukan mereka yang kerap kali mengejek. Mereka hanya tak tahu bagaimana harus berbuat. Mereka hanya kurang belajar untuk berbicara lebih baik, atau mungkin mereka miskin perbendaharaan kata?? Entahlah, aku tak mau berpikir yang tak baik terlalu jauh.
Aku merasa senang kepada bapak berseragam yang kutemui setiap pagi. Di sepanjang jalan Kalimalang dan jalan Maspion. Aku tahu, mereka tidak memandang rendah diriku karena berbedanya aku dengan mereka yang lain. Tanpa ku sadari, senyum, acungan jempol, dan sapaan mereka memberiku semangat untuk terus mengayuh. Aku senang menjadi berbeda, meski harus ku telan tuntutan selembar kertas yang kuterima 19 September 2013 lalu. Karena komitmenku lebih kuat dari apapun yang mungkin merusaknya. Jika usaha ku belum membuahkan hasil, kerjaku belum memberi keuntungan yang ku harapkan, atau mereka yang ku kenal tak membuatku lebih tenang, aku harus mengingat kembali tujuan utamaku berada di sini. Alasanku meninggalkan keluarga, dan berapa lama aku harus memegang teguh apa yang kuyakini.
Aku mungkin terlihat kalah dan sial di mata mereka yang membandingkanku dengan yang lain. Tetapi aku yakin, aku berhasil dan beruntung. Jika pun harus ada perbandingan agar mereka mau menelan semua pemikiranku, aku akan membandingkan dengan mereka yang memulai start bersama denganku dan dengan mereka yang berada di kelasku. Jika nilai nominal yang kuterima jauh dari kriteria kemenangan, aku harus yakin nilai kesempatan yang sedang ku kumpulkan lebih dari cukup untuk menunjukkan kejayaanku di masa mendatang yang tak mereka ketahui. Aku berusaha mengobati sakitku sendiri, mengadu pada Tuhan, dan Menggantungkan pada kemampuanku. Meski kadang aku harus menutup telingaku, melindungi pikiranku dari segala hal yang akan membuatku sedih.
Komitmen juga memberiku kekuatan. Tidak peduli apa pun yang ku hadapi, sakit, kemiskinan, atau
bencana, aku tidak akan teralih dari tujuanku.
Di setiap perjalanan, akan selalu ada rintangan. Seperti yang ku temui. Jalanan becek, lubang-lubang tak beraturan, kerikil tajam, tanjakan terjal, turunan curam ...belum lagi udara yg tak bersahabat entah itu karena polusi atau cuaca yg tak mendukung. Kemungkinan ban bocor, dan badan kurang fit. :( Semua harus kulewati agar aku sampai ke tempat kerja.
Maju teruss !! (kataku) Meski harus menurunkan kecepatan dan sepeda harus ku tatih. Tertinggal sedikit dari yg lain lebih baik daripada harus berhenti di tengah jalan lalu terlindas oleh mereka yg ganas. Tetaplah mengayuh lakukan yang terbaik yang aku bisa !! Ini hanya awal dari perjalananku, jangan hiraukan mereka yang kerap kali mengejek. Mereka hanya tak tahu bagaimana harus berbuat. Mereka hanya kurang belajar untuk berbicara lebih baik, atau mungkin mereka miskin perbendaharaan kata?? Entahlah, aku tak mau berpikir yang tak baik terlalu jauh.
Aku merasa senang kepada bapak berseragam yang kutemui setiap pagi. Di sepanjang jalan Kalimalang dan jalan Maspion. Aku tahu, mereka tidak memandang rendah diriku karena berbedanya aku dengan mereka yang lain. Tanpa ku sadari, senyum, acungan jempol, dan sapaan mereka memberiku semangat untuk terus mengayuh. Aku senang menjadi berbeda, meski harus ku telan tuntutan selembar kertas yang kuterima 19 September 2013 lalu. Karena komitmenku lebih kuat dari apapun yang mungkin merusaknya. Jika usaha ku belum membuahkan hasil, kerjaku belum memberi keuntungan yang ku harapkan, atau mereka yang ku kenal tak membuatku lebih tenang, aku harus mengingat kembali tujuan utamaku berada di sini. Alasanku meninggalkan keluarga, dan berapa lama aku harus memegang teguh apa yang kuyakini.
Aku mungkin terlihat kalah dan sial di mata mereka yang membandingkanku dengan yang lain. Tetapi aku yakin, aku berhasil dan beruntung. Jika pun harus ada perbandingan agar mereka mau menelan semua pemikiranku, aku akan membandingkan dengan mereka yang memulai start bersama denganku dan dengan mereka yang berada di kelasku. Jika nilai nominal yang kuterima jauh dari kriteria kemenangan, aku harus yakin nilai kesempatan yang sedang ku kumpulkan lebih dari cukup untuk menunjukkan kejayaanku di masa mendatang yang tak mereka ketahui. Aku berusaha mengobati sakitku sendiri, mengadu pada Tuhan, dan Menggantungkan pada kemampuanku. Meski kadang aku harus menutup telingaku, melindungi pikiranku dari segala hal yang akan membuatku sedih.
Komitmen juga memberiku kekuatan. Tidak peduli apa pun yang ku hadapi, sakit, kemiskinan, atau
bencana, aku tidak akan teralih dari tujuanku.
No comments:
Post a Comment