Aku datang dengan sejuta harapan. Bahwa ketika
aku pulang, Ia kan kembali menerimaku. Meski ku tahu, tak ada lagi cinta maupun
ego. Hanya harapan mempertahankan apa yg telah kita bangun bersama, setahun
lamanya. Aku datang berbekal sepi, sepi yang mengiring semenjak 5 Ramadhan
tahun itu. Berharap ketika ku pulang, Ia kan menjemputku dengan senyum, seperti
saat Ia mengantarkanku ke muka halaman. Dulu…. Aku datang, dan tak
sedikitpun terbersit, bahwa aku kan
mengerti tentang kejujuran, kebijaksanaan, dan ketulusan.
Kami sedang berkumpul di depan kantor Bupati
Ciamis, menunggu jam keberangkatan ke Sukadana (dan sekarang aku tinggal di
Sukadanau). “ini saatnya kita mempraktekkan buku-buku psikologi itu.” Kataku
kepada sahabat terbaikku. Elia Nurhaeni.
“Benar, mereka adalah target kita selanjutnya.
Dari wajah-wajahnya, mereka itu …..” Elia mengerutkan kening, menyangga dagunya
dengan kepalan tangan kiri seolah Ia adalah sang bijak yang galau mempertimbangkan sesuatu, kemudian ia memegang kening dan pelipis bagai seorang pemikir yang sedang berpacu keras memutar otak. Belum
sempat Ia menyampaikan hasil kerja kerasnya, aku segera mengalihkan
perhatiannya.
“Ada pemandangan indah………”*
“Mana-mana?” Elia girang.
“Itu yang sedang duduk di dalam elf”
“Bukannya itu elf kelompok kita? Asik,
sepertinya satu bulan ke depan bakalan seru nih”
“Nanti malam kita cari tahu tanggal kelahiran
mereka, pura-puranya buat data anggota. Terus jadi bahan pustaka kita.”
“Rencana hebat!!”Elia
memandangku seperti seorang pemburu yang menemukan magsanya. Menurutku bahasa
tubuh seperti inilah yang mengasyikan. Hanya pandangan mata, bahasa terindah
tanpa suara berjuta makna.
Kami melanjutkan perjalanan, dengan seribu harap dan iringan tawa penuh dahaga akan pengetahuan. Pengetahuan akan keunikan setiap pribadi, misteri yang selalu mengusik hati kami. Kami selalu percaya, bahwa setiap manusia adalah pribadi terbaik yang perlu dikenali. Melalui pengenalan inilah kami bisa mengetahui bagaimana harus berhubungan dengan mereka, meski terkadang kami belum mampu mencapai tahap itu setidaknya kami menjadi lebih bisa meredam emosi. Pengetahuan ini yang banyak orang sebut sebagai Psikologi, tetapi aku lebih senang menyebutnya sebagai "Beautifull Mess". Ketika kami mempelajarinya kami dapat melihat keindahan dimana-mana, di setiap tempat, peristiwa,pelaku, dan penikmat. Keindahan saat di cemooh oleh mereka yang mestinya kita kasihi, keindahan saat memberi kepada mereka yang kekurangan, keindahan saat melangkahkan kaki dalam mencari penawar atas dahaga pengetahuan, keindahan saat mampu menertawakan kesalahan diri, keindahan ketika menghapus tangis sesama teman, dan keindahan saat di masa depan begitu terkenang.
Kupandangi rumah tua itu. "Cukup" Dalam pikirku. Aku bisa menjadikannya bagian dari hidupku sebulan ke depan. Memulai yang baru lebih mudah daripada memperbaiki apa yang telah retak.
(bersambung)
No comments:
Post a Comment